Jejak Langkah Ivan Firmansyah : Dari Bajeng Hingga Ke Ujung Timur Tanah Papua

15 JUNI 2026.-Kabarexpres.comDi sudut tenang Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, kenangan masa sekolah masih terpatri kuat dalam ingatan Ivan Firmansyah. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri 2 Bajeng tempat di mana benih-benih cita-cita mulai bersemi dan tumbuh. Di kalangan teman-temannya, Ivan dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, namun selalu sigap menolong siapa saja yang sedang kesulitan.

Karakter kuat tertanam dalam dirinya, ia mudah memaafkan sesama, berhati lembut, namun hidup dengan kedisiplinan yang tinggi. Sikap itulah yang justru mencerminkan jiwa pemimpin yang alami dan tenang. Sejak bangku SMA, Ivan tidak pernah menuntut keinginan berlebih. Ada hari-hari ia berangkat sekolah tanpa membawa uang jajan, namun tekadnya tetap bulat, ia datang untuk belajar, bukan untuk bergaya.

Ketika tiba saatnya menentukan masa depan, Ivan memilih mendalami Ilmu Hukum di salah satu perguruan yang ada di Kota Makassar. Pilihan itu bukan kebetulan. Ayahnya adalah seorang jurnalis yang sehari-hari bergelut dengan tinta dan kebenaran, sering menelusuri seluk-beluk kasus pidana maupun perdata. Sejak kecil, Ivan terbiasa mendengar diskusi hangat di meja makan tentang keadilan, aturan, dan integritas. Hal itulah yang perlahan mengakar dan menumbuhkan ketertarikan mendalamnya pada dunia hukum.

Namun, beberapa bulan menekuni perkuliahan, ada dorongan halus namun kuat yang datang dari lubuk hatinya, keinginan mengabdi secara langsung, membela bangsa bukan hanya dengan dalil, melainkan dengan keringat, ketegasan, dan disiplin militer.

Awalnya, ide itu muncul justru saat ia sedang membantu sahabatnya yang berniat mendaftar Tentara Nasional Indonesia. Ivan yang rajin menolong, sibuk mengurus berkas, fotokopi dokumen, hingga mengantar teman itu menjalani tes kesehatan. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba terlintas gagasan, “Bagaimana jika saya juga mencoba? “Tanpa ragu, ia pun mendaftar lewat jalur daring yang sama.

Ivan menyampaikan keinginan itu kepada orang tuanya. Awalnya mereka terkejut baru beberapa bulan masuk kuliah, tiba-tiba beralih cita-cita..? Namun setelah mendengar penjelasan tulus anak bungsunya, restu pun diberikan. Mata Ivan berkaca-kaca, hati penuh bahagia karena tahu ia tidak berjalan sendirian.

Keesokan harinya, ia bergerak lebih giat lagi, melengkapi rapor, nilai, hingga pemeriksaan kesehatan. Segala persiapan materi tes sudah ia pelajari jauh sebelumnya. Saat semua berkas lengkap, pendaftaran daring pun dikirimkan. Waktu berlalu cepat, hingga kabar yang dinanti akhirnya tiba. Ivan dinyatakan lulus seleksi tingkat pusat. Ia harus segera melapor ke Resimen Induk Kodam (Rindam) XIV/Hasanuddin di Pakkatto, Maros. Perasaannya campur aduk, gembira mimpi mulai terwujud, namun getir harus berpisah sementara dari keluarga.

Ia harus datang tepat waktu saat subuh menyingsing keterlambatan sedikit saja berarti kami disuruh pulang. Ditemani kakaknya, Ivan berangkat menembus dingin dan gerimis yang membasahi aspal jalan raya. Di gerbang Rindam, kakaknya berhenti. “Maaf, Dik, Kakak tidak bisa antar sampai ke dalam. “Dada Ivan terasa sesak. Ia hanya sempat berpesan, “Doakan saya ya, Kak, supaya lulus.” Dalam hati, kakaknya berdoa penuh harap sambil menahan tangis. Ivan berlari masuk, terus melambaikan tangan hingga bayangan kakaknya hilang di kegelapan pagi.

Pendidikan dasar militer pun dimulai. Ivan bertekad kuat, tidak boleh lemah, harus tegar. Hingga hari pengumuman tiba. Orang tua, ketiga kakak, serta kerabat dekat, bibi, paman, dan nenek semua hadir menanti kabar. Ibu tampak tenang di luar, namun hatinya terus berzikir memohon perlindungan. Doa itu terkabul, Ivan dinyatakan lulus pendidikan Infanteri TNI‑AD dan dilantik menjadi prajurit berpangkat Prajurit Dua (Prada).

Ujian sesungguhnya baru dimulai. Ia dikirim ke Pantai Tetek, Kabupaten Bone, menjalani Pendidikan Pembaretan Infanteri selama dua bulan. Fisik dan mental ditempa habis‑habisan lelah dan sakit sering menyapa, namun semangatnya tak luntur. Baret hijau yang disematkan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehormatan dan tanggung jawab besar.

Setelah lulus dengan gemilang, tugas negara membawanya jauh ke timur Kota Sorong, Papua Barat Daya. Ivan bertugas di Kompi Satuan Tugas 806, di bawah Kodam XVIII/Kasuari. Di tanah yang jauh dari rumah, ia berdiri tegak menjaga kedaulatan NKRI.

Dari ruang kuliah hukum yang sejuk di Makassar hingga pos jaga di tanah Sorong, perjalanan Ivan membuktikan ilmu hukum dan tugas militer adalah dua sisi mata uang yang sama bertujuan menjaga keadilan dan keutuhan bangsa.(/*)

 

“Ternyata Tentara Saya Kira Sarjana.. Inilah slogan kelulusannya.